Hidup adalah pertukaran. Ada yang memberi dan ada yang menerima. Semua dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Dalam masyarakat, semua ini diwujudkan dengan berinteraksi antara orang yang satu dengan yang lain. Dalam interaksi, ada kontak sosial dan komunikasi sebagai unsur pembentuknya. Kontak sosial bisa terjadi dimana saja dan komunikasi bisa berlangsung kapan saja. Setiap orang membutuhkan informasi guna mensukseskan rencana/kepentingannya.
Informasi kerap kaitannya dengan proses komunikasi. Nah untuk itu, mari sebentar kita mempelajari sedikit mengenai komunikasi serta unsur-unsur dan jenis-jenisnya.Mari kita identifikasi jenis-jenis komunikasi seperti apa yang pernah kita lakukan dalam bermasyarakat.
A. Komunikasi
Kata
komunikasi berasal dari bahasa latin communicare
yang mempunyai tiga arti: bergaul dengan seseorang, memberitahukan kepada
orang lain, berhubungan dengan orang lain. Dari kata keja tersebut kemudian
dibentuk kata benda comminicatio yang
di Indonesiakan menjadi konunikasi. Oleh Karen itu, kata komunikasi bisa berarti
pergaulan, pemberitahuan, dan perhubungan.
Dalam sosiologi kata
komunikasi mengandung pengertian yang luas. Oleh karena itu,
dipakai
kata komuikasi social. Jadi, kata komunikasi social mempunyai arti tersendiri yang berkaitan
dengan
hal ihwal pemberitahuan dalam lingkup masyarakat luas. Bagi sosiologi,
komuikasi itu bukan sekedar. berisi
informasi. Melainkan, meliputi
ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami oleh umat manusia
yang
hidup dalam masyarakat.
jadi, secara
definitive komunikasi social ialah sautu proses interaksi dimana seseorang
atau lembaga menyampaikan amanat pada pihak lain supaya pihak lain itu dapat
menangkap maksud yang dikehendaki penyampai
B. Unsur-unsur
Komunikasi Sosial
Menurut
Hendropuspito, komunikasi social itu mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
a. Komunikator
Yaitu pihak yang
memulai komunikasi. Komunikator mungkin
seseorang atau sesuatu institusi. Dalam proses komiunikasi komunikator
merupkan unsur yang aktif serta mengambil prakarsa untuk bertindak.
b. Amanat
Yaitu hal yang
disampaikan. Amanat dapat berupa perintah, kabar buah pikiran, pendapat,
anjuran, dan sebagainya. Maksud penyampaian adalah upaya pemahaman dan tanggapan
pihak lain yaitu penerima amanat, seperti dengan maksud pengirim.
c. Media
untuk penyampai amanat
Yaitu daya upaya yang
dipakai untuk menyampaikan amanat kepada penerima. Dalam uraian selanjutnya
dinamakan ‘media komunikasi sosial’. Media komunikasi sosial ini mengandung
dua unsure, yaitu unsure pernyataan (ungkapan) amant itu sendiri dan alat yang
dipakai untuk menyampaikan amanat itu.
d. Tanggapan
(respons)
Yaitu tujuan dari
kounikator. Yang diharapkan adalah bahwa tanggapan komunikan sama dengan
maksud komunikator. Dengan demikain komunikasi bisa dikatakan berhasil. Evektivitas komunikasi
tercapai.
C. Jenis-jenis
komunikasi social
Komunikasi dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa jenis menurut sudut pandang tertentu. Berikut adalah pandangan
Hendropuspito mengenai jenis-jenis komunikasi social, antara lain:
a. Komunikasi
lngsung dan tidak langsung
Kounmikasi langsung (direct communication) juga disebut
komunikiasi dari muka ke muka (face to
face). Si pengirim amanat berhubungan langsung dengan penerima, tanpa
perantara. Bentuk komunikasi inilah yang sering dipakai dalam kehidupan
seari-hari. Tanggapan dari si penerima langsung bisa diketahui si pemberi
amanat. Komunikasi ini menciptakan suasana tersendiri, akrab, dan saling
percaya.
Komunikasi
tidaklangsung (indirect communication)
terjadi apabila dalam berkomunikasi dipakai satu atau lebih perantara untuk
menghubungkan komunikator dengan komunikan. Jenis konunikasi ini digunakan
karena berbagai pertimbangan. Antara lain kareena jarak dan jarak manat itu
sendiri dirasa kurang sesuai jika disampaikan secara pribadi oleh si pengirim.
b. Komunikasi
satu arah dan komunikasi timbal balik
Komunikasi satu arah (one-way communication) terjadi apabila
penyampaian amanat itu hanya datang dari satu jurusan, jadi tidak mungkin ada
tanggapan langsung dari penerima Misalnya: perintah harian ketentaraan, siaran
radio/televisi, dll. Bentuk komunikasi ini menciptakan hubungan yang kaku,
karena tidak mungkin mendapat tanggapan langsung.
Komunikasi timbal
balik (reciprocal communication)
terjadi jika penerima amanat dapat memberikan tanggapan langsung kepada
pemberi. Misalnya: pembicaraan lewat telepon, rapat, muyawarah, diskusi, dll.
Bentuk komunikasi ini apat memperat hubungan dan menjalin hubungan
persaudaraan. Kedua belah pihak sama-sama aktif.
c. Komunikasi
bebas dan komunikasi fungsional
Komunikasi bebas
(nonorganic) tidak terikat pada formalitas tertentu yang harus diganti.
Satu-satunya ikatan ialah kode sosio-kultural pada umumnya. Misalnya:
komunikasai dalam pergaulan biasa dimana kedua belah pihak diharapkan mengenal
aturan sopan santun.
Komunikasi fungsional
(institusional) terikat pada peraturan institusi yang bersangkutan. Komunikasi
ini bersifat fungsional dan structural. Misalnya: dosen dengan mahasiswa.
Penyampaian amanat ini dilakukan menurut formalaitas tertentu, seperti piƱata
laksana (protokoler).
d. Komunikasi
individual dan komun ikasi massal
Komunikasi individual (individual communication) ditujukan
pada seseorang atau beberapa orang yang sudah dikenal. Pihak komunikan bukan
anonym, tapi orang yang dikenal baik oleh komunikator. Hasil komunikasi ini
mempunyai bobot tersendiri.
Komunikasi massal (mass communication atau general caommuinication) ditujukan pada
umum yang belum dikenal. Pihak komunikan terdiri dari massa dengan berbagai
sosio-kultural, ras, dan usia. Misalnya: seminar, pidato, khotbah, dll.
e. Komunikasi
organic
Komunikasi organic
dapat disebut juga komunikasi fungsional.
Dalam komunikasi organic orang tidak bebrbicara kepada seseorang dengan
nomor, melainkan tetap berbicara kepada seorang pribadi manusia. Perhatian
pertama diberikan secara pribadi, baru kemudian kepada jawatan/lembaganya. Jadi
seorang anggota jawatan tidak dikorbankan demi jawatannya. Sebaliknya, demi
keberhasilan jawatan justru pribadi anggota sebagai komunikan perlu
diperhatikan terlebih dahulu. Tidak boleh dilupakan bahwa tujuan dari
komunikasi juga menjangkau perubahan pribadi komunikan melalui penangkapan
kognitif hingga perubahan aektif dan psikomotorik.
Dalam
bidang komunikasi organic, sosiologi mengemban beberapa tugas antara lain:
- Membedakan jenis-jnis amanat, apakah isi manat itu bernilai kedisioplinan jawatan/lembaga, nilai rohani atau nilai jasa social yang khusus diusahakan jawatan/lembaga yang bersangkutan.
- Mempelajari kode/symbol nilai-nilai tersebut, dan
- Mempelajari apakah teknik penyampaian kode amanat itu dapat dibenarkan dalam komunikasi intraorganik dan interorganik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar