Selasa, 01 Januari 2013

Komunikasi, Unsur dan Jenis-Jenisnya


Hidup adalah pertukaran. Ada yang memberi dan ada yang menerima. Semua dilakukan untuk memperoleh keuntungan. Dalam masyarakat, semua ini diwujudkan dengan berinteraksi antara orang yang satu dengan yang lain. Dalam interaksi, ada kontak sosial dan komunikasi sebagai unsur pembentuknya. Kontak sosial bisa terjadi dimana saja dan komunikasi bisa berlangsung kapan saja. Setiap orang membutuhkan informasi guna mensukseskan rencana/kepentingannya.
Informasi kerap kaitannya dengan proses komunikasi. Nah untuk itu, mari sebentar kita mempelajari sedikit mengenai komunikasi serta unsur-unsur dan jenis-jenisnya.Mari kita identifikasi jenis-jenis komunikasi seperti apa yang pernah kita lakukan dalam bermasyarakat.

A. Komunikasi

Kata komunikasi berasal dari bahasa latin communicare yang mempunyai tiga arti: bergaul dengan seseorang, memberitahukan kepada orang lain, berhubungan dengan orang lain. Dari kata keja tersebut kemudian dibentuk kata benda comminicatio yang di Indonesiakan menjadi konunikasi. Oleh Karen itu, kata komunikasi bisa berarti pergaulan, pemberitahuan, dan perhubungan.
Dalam sosiologi kata komunikasi mengandung pengertian yang luas. Oleh karena itu,
dipakai kata komuikasi social. Jadi, kata komunikasi social  mempunyai arti tersendiri yang berkaitan dengan
hal ihwal pemberitahuan dalam lingkup masyarakat luas. Bagi sosiologi, komuikasi itu bukan sekedar. berisi
informasi. Melainkan, meliputi ungkapan-ungkapan perasaan yang pada umumnya dialami oleh umat manusia
yang hidup dalam masyarakat.
           jadi,  secara definitive komunikasi social ialah sautu proses interaksi dimana seseorang atau lembaga menyampaikan amanat pada pihak lain supaya pihak lain itu dapat menangkap maksud yang dikehendaki penyampai

B. Unsur-unsur Komunikasi Sosial
Menurut Hendropuspito, komunikasi social itu mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
a.       Komunikator
Yaitu pihak yang memulai komunikasi. Komunikator mungkin  seseorang atau sesuatu institusi. Dalam proses komiunikasi komunikator merupkan unsur yang aktif serta mengambil prakarsa untuk bertindak.
b.      Amanat
Yaitu hal yang disampaikan. Amanat dapat berupa perintah, kabar buah pikiran, pendapat, anjuran, dan sebagainya. Maksud penyampaian adalah upaya pemahaman dan tanggapan pihak lain yaitu penerima amanat, seperti dengan maksud pengirim.
c.       Media untuk penyampai amanat
Yaitu daya upaya yang dipakai untuk menyampaikan amanat kepada penerima. Dalam uraian selanjutnya dinamakan ‘media komunikasi sosial’. Media komunikasi sosial ini mengandung dua unsure, yaitu unsure pernyataan (ungkapan) amant itu sendiri dan alat yang dipakai untuk menyampaikan amanat itu.
d.      Tanggapan (respons)
Yaitu tujuan dari kounikator. Yang diharapkan adalah bahwa tanggapan komunikan sama dengan maksud komunikator. Dengan demikain komunikasi bisa dikatakan berhasil. Evektivitas komunikasi tercapai.
  
C.  Jenis-jenis komunikasi social
Komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis menurut sudut pandang tertentu. Berikut adalah pandangan Hendropuspito mengenai jenis-jenis komunikasi social, antara lain:
a.       Komunikasi lngsung dan tidak langsung
Kounmikasi langsung (direct communication) juga disebut komunikiasi dari muka ke muka (face to face). Si pengirim amanat berhubungan langsung dengan penerima, tanpa perantara. Bentuk komunikasi inilah yang sering dipakai dalam kehidupan seari-hari. Tanggapan dari si penerima langsung bisa diketahui si pemberi amanat. Komunikasi ini menciptakan suasana tersendiri, akrab, dan saling percaya.
Komunikasi tidaklangsung (indirect communication) terjadi apabila dalam berkomunikasi dipakai satu atau lebih perantara untuk menghubungkan komunikator dengan komunikan. Jenis konunikasi ini digunakan karena berbagai pertimbangan. Antara lain kareena jarak dan jarak manat itu sendiri dirasa kurang sesuai jika disampaikan secara pribadi oleh si pengirim.
b.      Komunikasi satu arah dan komunikasi timbal balik
Komunikasi satu arah (one-way communication) terjadi apabila penyampaian amanat itu hanya datang dari satu jurusan, jadi tidak mungkin ada tanggapan langsung dari penerima Misalnya: perintah harian ketentaraan, siaran radio/televisi, dll. Bentuk komunikasi ini menciptakan hubungan yang kaku, karena tidak mungkin mendapat tanggapan langsung.
Komunikasi timbal balik (reciprocal communication) terjadi jika penerima amanat dapat memberikan tanggapan langsung kepada pemberi. Misalnya: pembicaraan lewat telepon, rapat, muyawarah, diskusi, dll. Bentuk komunikasi ini apat memperat hubungan dan menjalin hubungan persaudaraan. Kedua belah pihak sama-sama aktif.
c.       Komunikasi bebas dan komunikasi fungsional
Komunikasi bebas (nonorganic) tidak terikat pada formalitas tertentu yang harus diganti. Satu-satunya ikatan ialah kode sosio-kultural pada umumnya. Misalnya: komunikasai dalam pergaulan biasa dimana kedua belah pihak diharapkan mengenal aturan sopan santun.
Komunikasi fungsional (institusional) terikat pada peraturan institusi yang bersangkutan. Komunikasi ini bersifat fungsional dan structural. Misalnya: dosen dengan mahasiswa. Penyampaian amanat ini dilakukan menurut formalaitas tertentu, seperti piƱata laksana (protokoler).
d.      Komunikasi individual dan komun ikasi massal
Komunikasi individual (individual communication) ditujukan pada seseorang atau beberapa orang yang sudah dikenal. Pihak komunikan bukan anonym, tapi orang yang dikenal baik oleh komunikator. Hasil komunikasi ini mempunyai bobot tersendiri.
Komunikasi massal (mass communication atau general caommuinication) ditujukan pada umum yang belum dikenal. Pihak komunikan terdiri dari massa dengan berbagai sosio-kultural, ras, dan usia. Misalnya: seminar, pidato, khotbah, dll.
e.       Komunikasi organic
Komunikasi organic dapat disebut juga komunikasi fungsional.  Dalam komunikasi organic orang tidak bebrbicara kepada seseorang dengan nomor, melainkan tetap berbicara kepada seorang pribadi manusia. Perhatian pertama diberikan secara pribadi, baru kemudian kepada jawatan/lembaganya. Jadi seorang anggota jawatan tidak dikorbankan demi jawatannya. Sebaliknya, demi keberhasilan jawatan justru pribadi anggota sebagai komunikan perlu diperhatikan terlebih dahulu. Tidak boleh dilupakan bahwa tujuan dari komunikasi juga menjangkau perubahan pribadi komunikan melalui penangkapan kognitif hingga perubahan aektif dan psikomotorik.
Dalam bidang komunikasi organic, sosiologi mengemban beberapa tugas antara lain:
  • Membedakan jenis-jnis amanat, apakah isi manat itu bernilai kedisioplinan jawatan/lembaga, nilai rohani atau nilai jasa social yang khusus diusahakan jawatan/lembaga yang bersangkutan.
  •  Mempelajari kode/symbol nilai-nilai tersebut, dan 
  • Mempelajari apakah teknik penyampaian kode amanat itu dapat dibenarkan dalam komunikasi intraorganik dan interorganik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Know us

Our Team

Contact us

Nama

Email *

Pesan *